Fatima binti Muhammad Al-Fihriya Al-Qurashiya (Arab: ูุงุทู
ุฉ ุจูุช ู
ุญู
ุฏ ุงูููุฑูุฉ ุงููุฑุดูุฉ) adalah pendiri universitas pertama di dunia, yaitu; Universitas Al-Qarawiyyin di Fez, Maroko. Sekaligus Pembuat Topi Toga dan Baju/jubah Wisuda. Pada saat kepemimpinan Raja Idris ll, awal abad ke-9, Fatimah beserta keluarganya hijrah dari Qayrawan (Tunisia), ke Kota Fez di Maroko. Sebuah kota yang saat itu terkenal sebagai kota metropolitan, dengan penduduk Muslim non-Arab. Fatima binti Muhammad Al-Fihriya Al-Qurashiya (Arab: ูุงุทู
ุฉ ุจูุช ู
ุญู
ุฏ ุงูููุฑูุฉ ุงููุฑุดูุฉ) lahir dari keluarga Fihri pada 800 M. Fatimah konon juga terkenal dengan jiwa serta keahliannya sebagai pebisnis dan saudagar sukses. Fatimah al-Fihri mempunyai saudara perempuan yang bernama Maryam. Kakak-beradik ini memperoleh pendidikan mumpuni. Mereka berdua tumbuh dan besar dari keluarga yang juga mencintai ilmu terutama ilmu-ilmu keagamaan hingga ilmu-ilmu umum dan sains, khususnya arsitektur dan bangunan. Pada Ramadhan 245 H/859 M. Fatimah membangun masjid, yang selesai pada 861 M. Masjid tersebutlah yang dinamakan al-Qarawiyyin (terkenal juga dengan julukan Masjid Jami’ al-Syurafa’). Sementara adik perempuan Fatima,yaitu Maryam membangun masjid al-Andalus, di Spanyol. Dua masjid ini kemudian bertransformasi menjadi universitas, Di Masjid al-Qarawiyyin inilah Fatima al Fihria melangsungkan
Culit_Pelopaz
Selasa, 20 Oktober 2020
Sabtu, 22 Agustus 2020
SUNAN GIRI (RADEN AINUL YAQIN)
Sunan Giri adalah nama salah seorang Walisongo dan pendiri kerajaan Giri Kedaton, yang berkedudukan di daerah Gresik, Jawa Timur. Sunan Giri membangun Giri Kedaton sebagai pusat penyebaran agama Islam di Jawa, yang pengaruhnya bahkan sampai ke Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Sunan Giri memiliki beberapa nama panggilan yaitu; Raden Paku, Prabu Satmata, Sultan Abdul Faqih, Raden 'Ainul Yaqin dan Joko Samudro. Ia lahir di Blambangan tahun 1442, dan dimakamkan di desa Giri, Kebomas, Gresik. Sunan Giri merupakan anak dari Syekh Maulana Ishaq dengan Dewi Sekardadu, putri Prabu Menak Sembuyu penguasa wilayah Blambangan pada masa-masa akhir Majapahit. Namun kelahirannya dianggap telah membawa kutukan berupa wabah penyakit diwilayah tersebut. Maka ia dipaksa ayahandanya (Prabu Menak Sembuyu) untuk membuang anak yang baru dilahirkannya itu. Lalu, Dewi Sekardadu dengan rela menghanyutkan anaknya itu ke laut/selat bali sekarang ini. Versi lain menyatakan bahwa pernikahan Maulana Ishaq dengan Dewi Sekardadu tidak mendapat respon baik dari dua patih yang sejatinya ingin menyunting dewi sekardadu (putri tunggal Menak sembuyu sehingga kalau jadi suaminya, merekalah pewaris tahta kerajaan. Ketika Sunan Giri lahir, untuk mewujudkan ambisinya, kedua patih membuang bayi sunan giri ke laut yang dimasukkan ke dalam peti. Kemudian, bayi tersebut ditemukan oleh sekelompok awak kapal (pelaut) dan dibawa ke Gresik. Di Gresik, dia diadopsi oleh seorang saudagar perempuan pemilik kapal, Nyai Gede Pinatih. Nyai Gede Pinatih adalah janda kaya raya di Gresik, bersuami Koja Mahdum Syahbandar, seorang asing di Majapahit. Nama Pinatih sendiri sejatinya berkaitan dengan nama keluarga dari Ksatria Manggis di Bali (Eiseman, 1988), yang merupakan keturunan penguasa Lumajang, Menak Koncar, salah seorang keluarga Maharaja Majapahit yang awal sekali memeluk
Langganan:
Komentar (Atom)