๐Ÿ’บ๐Ÿ›ธ๐Ÿšค๐Ÿ›ณ️๐Ÿ›Ÿ๐Ÿ›ž๐Ÿšฆ๐Ÿณ️‍๐ŸŒˆ๐Ÿด๐ŸŒŒ๐ŸŒŽ๐Ÿงญ๐ŸŒ‹๐Ÿ•️๐Ÿ–️๐ŸŸ️๐Ÿ˜️๐Ÿ—️๐Ÿ️๐Ÿ›ฃ️๐Ÿ›ค️⛰️๐Ÿ—บ️๐ŸŒ๐Ÿšฉ๐Ÿณ️๐Ÿ๐Ÿšฅ⛽⚓๐Ÿด‍☠️๐Ÿช๐ŸŒ๐Ÿ”️๐Ÿ—ป๐Ÿž️๐Ÿœ️๐Ÿ›️๐ŸŽˆ๐Ÿงจ๐ŸŽŠ๐ŸŽ‹๐ŸŽ๐Ÿงง๐ŸŽ—️๐ŸŽซ๐ŸŽก๐ŸŽญ๐Ÿงต๐Ÿชข๐Ÿ•ถ️๐Ÿ›’๐Ÿชก๐Ÿ–ผ️๐ŸŽข๐ŸŽ ๐ŸŽž️๐ŸŽ€๐ŸŽ๐ŸŽ๐ŸŽƒ✨๐ŸŽ†๐ŸŽ‡๐ŸŽ‰๐ŸŽ„๐ŸŽŽ๐ŸŽ‘๐ŸŽ๐ŸŽŸ️๐Ÿ›๐ŸŽช๐ŸŽจ๐Ÿงถ๐Ÿ‘“๐Ÿฅฝ⛸️๐ŸŽณ๐Ÿˆ๐ŸฅŽ๐Ÿ’Ž๐Ÿ’‹๐Ÿ‘’๐Ÿงข๐Ÿชฎ๐Ÿ‘ ๐Ÿ‘Ÿ๐ŸŽ’๐Ÿ‘œ๐Ÿฉฑ๐Ÿ‘š๐Ÿ‘—๐Ÿงฃ๐Ÿ•ถ️๐Ÿงค๐Ÿฅป๐Ÿชญ๐Ÿ‘™๐Ÿ‘๐Ÿฉด๐Ÿฅพ๐Ÿ‘ก๐Ÿฉฐ๐Ÿช–๐ŸŽฉ๐Ÿ’„⚽๐Ÿ€๐Ÿ‰๐ŸฅŒ๐ŸŽฃ๐Ÿคฟ⛳๐ŸŽฑ๐Ÿ⚾๐Ÿ’๐ŸŽ“⛑️๐Ÿ‘‘๐Ÿ‘ข๐Ÿฅฟ๐Ÿ‘ž๐Ÿ›️๐Ÿ‘›๐Ÿ‘˜๐Ÿš—๐ŸšŒ๐Ÿ›บ๐Ÿš‘๐Ÿš›๐Ÿš”๐Ÿฆฝ๐Ÿ›ผ๐Ÿ›ต๐Ÿš„๐Ÿš‹๐ŸšŠ๐Ÿ›ฉ️๐Ÿ›ซ๐Ÿš๐Ÿ›ฐ️๐Ÿ›ฅ️๐Ÿšข๐Ÿš๐Ÿšจ๐Ÿš“๐Ÿš™๐Ÿš๐Ÿš’๐Ÿšœ๐Ÿš–๐Ÿฆผ๐Ÿšฒ๐Ÿ️๐Ÿš•๐Ÿ›ป๐ŸšŽ๐Ÿšš๐Ÿš˜๐ŸŽ️

Cari Disini

Sabtu, 22 Agustus 2020

SUNAN DRAJAT (RADEN SYARIFUDIN ATAU RADEN QOSIM )

Sunan Drajat atau  Raden Syarifudin, Nama kecilnya adalah Raden Qasim, lahir pada tahun 1470 Masehi.Sunan Drajat Juga memiliki Nama lain yaitu; Sunan Mahmud, Sunan Muryapada, Maulana Hasyim,Syekh Masakeh,Raden Imam. Dia adalah putra dari  Sunan Ampel, dengan Nyi Ageng Manila dan bersaudara dengan Sunan Bonang. Beliau juga merupakan cucu dari Syekh Maulana Malik Ibrahim anak dari Syekh Jamaludin Akbar, atau yang dikenal Syekh Jumadil Kubro. dan terkenal dengan kecerdasannya. Sebagai Wali penyebar Islam yang terkenal berjiwa sosial, sangat memperhatikan nasib kaum fakir miskin. Ia terlebih dahulu mengusahakan kesejahteraan sosial baru memberikan pemahaman tentang ajaran Islam. Motivasi lebih ditekankan pada etos kerja keras, kedermawanan untuk mengentas kemiskinan dan menciptakan kemakmuran. Sunan Drajat mengenyam pendidikan pesantren Ampel Denta di Surabaya bersama-sama dengan kakaknya sunan Bonang, kerabatnya sunanGiri.Pesantren di Ampel Denta yang waktu itu berada di bawah pimpinan Sunan Ampel, ayahnya sendiri.Beliau mendapatkan perintah untuk menyebarkan agama Islam di wilayah barat Surabaya,terutama berada di pesisir GresikTetapi dalam perjalannya menyebrangi lautan,Sunan Drajat mengalami musibah yang tak terduga.Perahu yang ditumpanginya terhantam badai ombak raksasa yang menyebabkannya tenggelam dan akhirnya beliau terdampar di desa yang berada dipesisir Lamongan.di desa tersebut, Beliau mendapatkan sambutan hangat dari tokoh tetua kampung yang bernama Mbah Mayang Madu serta Mbah Banjar. Mereka sebelumnya telah diyakini memeluk agama Islam.Akhirnya Sunan Drajat memutuskan untuk menetap di Desa Jelak dengan menikahi Nyai Kemuning, yakni putri dari Mbah Mayang Madu. Beliau mendirikan sebuah surau kecil yang kemudian berkembang menjadi pesantren sebagai tempat para penduduk mengaji. Desa Jelak yang semula terpencil mulai dikembangkan semakin maju dan juga ramai, nama desa pun akhirnya diubah menjadi Banjar anyar. Setelah merasa bahwa dakwahnya di Desa Jelak berhasil, sekitar tahun 1486 M. Sunan Drajat memutuskan untuk berkelana mencari tujuan dakwah ditempat lain. Beliau melakukan perjalanan ke arah selatan. Di situ terdapat hutan belantara lalu beliau meminta izin kepada Sultan Demak 1 untuk menempati tanah tersebut. Sunan Drajat pun melakukan babad alas untk pertama kalinya, beserta para pengikutnya Sunan Drajat mulai membukan hutan tersebut dan membangun pemukiman dilahan yang baru tersebut. Dan tempat/pemukiman baru tersebut diberi nama Ndalem Duwur yang kini berfungsi sebagai kompleks pemakaman beliau. Sunan Drajat memperoleh kewenangan untuk mengatur dan memegang kendali keprajaan diwilayah perdikan Drajat sebagai otonom kerajaan Demak,serta kegiatan dakwahnya kurang lebih selama 36 tahun antara abad XV sampai XVI MasehiBeliau juga mendirikan sebuah masjid untuk dijadikan sebagai tempat dakwah sepanjang hidupnya. Keberhasilan Raden Syarifuddin dalam mengembangkan Islam menyebabkannya dijuluki sebagai Kadrajat yang berarti seseorang yang diangkat drajatnyaDari situlah muncul sebutan Sunan Drajat, sekaligus bergelar Sunan Mayang Madu oleh Raden Fatah (Sultan Demak pada tahun saka 1442 atau 1520 Masehi.) karena telah berhasil mensejahterakan rakyat. diantara ajaran dan keberhasilan yg telah dicapai oleh Sunan Drajat yg lain ada juga 7 (tujuh) filosofi Sunan Drajat dalam Mengamalkan ajaran Islam yaitu: 

  1. “Memangun resep tyasing Sasoma” Arti ajaran tersebut yaitu kita harus membuat hati orang lain senang.
  2. “Jroning suka kudu รฉling lan waspada” Arti ajaran tersebut yaitu ketika kita merasa bahagia, kita harus ingat pada sang Kuasa.
  3. “Laksmitaning subrata tan nyipta marang pringgabayaning lampah” Arti ajaran tersebut yaitu Untuk menggapai cita-cita, kita tidak boleh putus asa dengan banyaknya rintangan.
  4. “Meper Hardaning Pancadriya” artinya menekan hawa nafsu yang bergelora.
  5. “Heneng – Hening – Henung” yang artinya dalam keadaan diam kita bisa mendapat keheningan dan kita bisa menggapai cita-cita saat hening.
  6. “Mulya guna Panca Waktu” Arti ajaran tersebut yaitu suatu kebahagiaan bisa diperoleh dengan melaksanakan sholat lima waktu.
  7. Empat ajaran pokok bersosialisasi yang berbunyi “Kita harus memberikan ilmu kepada orang yang bodoh, mensejahterakan orang miskin, mengajari tentang kesusilaan dan melindungi orang yang sedang menderita”.

4 (empat) ajaran Sunan Drajat atau yang disebut "Catur Piwulang "Catur berarti “Empat” dan Piwulang artinya “Ajaran” jadi Catur Piwulang adalah 4 ajaran yang ditekankan oleh Sunan Drajat untuk membantu sesama.
Isi dari ajaran Catur Piwulang adalah sebagai berikut :
  • Wenehono teken marang wong kan wuto
  • Wenehono pangan marang wong kang keluwen
  • Wenehono payung marang wong kang kaudanan
  • Wenehono sandang marang wong kang kawudan
Artinya dalam bahasa Indonesia :
  • Berilah tongkat kepada orang buta
  • Berilah sedekah makanan bagi orang kelaparan
  • Berilah payung atau tempat berteduh bagi orang kehujanan
  • Berilah pakaian untuk orang yang tidak berpakaian

Saat di daerah Cirebon, Sunan Drajat sering disebut dengan Syekh Syarifuddin. Di sana beliau turut membantu Sunan Gunung Jati dalam menyebarkan dakwah agama Islam. Beliau kemudian menikah dengan Dewi Sufiyah yang merupakan putri dari Sunan Gunung Jati, dan dikaruniai anak bernama Pangeran Trenggana, Pangeran Sandi, dan Dewi Wuryan. Selain itu, beliau juga menikah dengan Nyai Kemuning, Nyai Kemuning merupakan putri dari Mbah Mayang Madu yang merupakan seorang tetua desa Jelak,orang yang telah menolong Sunan Drajat disaat terdampar dalam perjalanan dakwahnya menuju ke pesisir Gresik. Dan setelah itu Sunan Drajat juga pernah menikahi Nyai Retno Ayu Candrawati yang merupakan putri dari Raden Suryadilaga, seorang adipati di kawasan Kediri. Beliau wafat pada tahun 1522 M dan Beliau dimakamkan diarea pesantrennya yaitu di desa Drajat, kecamatan Paciran, kabupaten Lamongan, Jawa Timur.Letak makam beliau berada dibelakang dan terletak diposisi paling tinggi di dekat makam ini juga terdapat museum peninggalan Sunan Drajat selama masa hidupnya.Di museum ini tersimpan rapi kumpulan tembang pangkur,dayung perahu yang pernah menyelamatkannya dan gamelan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar