
Dalam Serat Darmo Gandhul,Sunan Ampel atau RADEN RAHMAT bernama asli Sayyid Muhammad Rahmatullah merupakan keponakan dari Putri Champa permaisuri Prabu Brawijaya yang merupakan seorang muslimah.Raden Rahmat,Raden Santri dan Raden Burereh/Abu Hurairah (cucu raja Champa) pada tahun 1443 M.pergi ke Majapahit mengunjungi bibi mereka bernama Dwarawati puteri raja Champa yang menjadi permaisuri raja Brawijaya.Raja Champa saat itu merupakan seorang muallaf.Raden Rahmat,Raden Santri dan Raden Burereh akhirnya tidak kembali ke negerinya karena Kerajaan Champa dihancurkan oleh Kerajaan Veit Nam. Dalam perjalanan keluarganya,Sunan Ampel memiliki dua orang istri. Istri pertama melahirkan 5 orang anak dan istri kedua melahirkan 6 orang anak.Jika dijumlah,maka Raden Rahmat memiliki 11 anak selama perjalanan hidupnya.
Adapun istri pertama Raden Rahmat bernama Dewi Condrowati atau Nyai Ageng Manila binti Aryo Tejo Al Abbasyi.Dari dirinya, lahir 5 orang anak,yang bernama:
- MaulanaMahdum Ibrahim/Raden Mahdum Ibrahim/ Sunan Bonang
- Syarifuddin/Raden Qasim/Sunan Derajat
- Siti Syari’ah/ Nyai Ageng Maloka/ Nyai Ageng Manyuran
- Siti Muthmainnah
- Siti Hafsah.
Adapun
istri kedua Sunan Ampel bernama Dewi Karimah binti Ki Kembang Kuning. Dari
dirinya, beliau memiliki 6 orang anak yang bernama:
- Dewi Murtasiyah/Istri Sunan Giri
- Dewi Murtasimah/Asyiqah/Istri Raden Fattah
- Raden Husamuddin (Sunan Lamongan)
- Raden Zainal Abidin (Sunan Demak)
- Pangeran Tumapel
- Raden Faqih (Sunan Ampel 2).
Putra-putri Raden Rahmat bisa dikatakan menjadi orang-orang yang berhasil. Mereka memiliki peran yang sangat penting dalam penyebaran agama Islam di Indonesia, khususnya di Jawa. Sunan Ampel atau Raden Rahmat atau Sayyid Muhammad Rahmatullah adalah salah satu ulama besar yang pernah hidup di Nusantara dan menjadi salah satu juru dakwah paling masyhur di Jawa.Ia merupakan ulama besar yang memiliki jasa cukup penting sehingga Islam bisa dikenal dan menyebar secara luas di tanah jawa. Menurut Hikayat Banjar dan Kotawaringin (= Hikayat Banjar resensi I), nama asli Sunan Ampel adalah Raja Bungsu,anak Sultan Pasai.Dia datang ke Majapahit menyusul/menengok kakaknya yang diambil istri oleh Raja Mapajahit. Raja Majapahit saat itu bernama Dipati Hangrok dengan mangkubuminya Patih Maudara (kelak Brawijaya VII). Dipati Hangrok (alias Girindrawardhana alias Brawijaya VI) telah memerintahkan menterinya Gagak Baning melamar Putri Pasai dengan membawa sepuluh buah perahu ke Pasai.Sebagai kerajaan Islam,mulanya Sultan Pasai keberatan jika Putrinya dijadikan istri Raja Majapahit,tetapi karena takut binasa kerajaannya akhirnya Putri tersebut diberikan juga.Putri Pasai dengan Raja Majapahit memperoleh anak laki-laki. Karena rasa sayangnya Putri Pasai melarang Raja Bungsu pulang ke Pasai.Sebagai ipar Raja Majapahit,Raja Bungsu kemudian meminta tanah untuk menetap di wilayah pesisir yang dinamakan Ampelgading.Anak laki-laki dari Putri Pasai dengan raja Majapahit tersebut kemudian dinikahkan dengan puteri raja Bali.Putra dari Putri Pasai tersebut wafat ketika istrinya Putri dari raja Bali mengandung tiga bulan.Karena dianggap akan membawa celaka bagi negeri tersebut,maka ketika lahir bayi ini (cucu Putri Pasai dan Brawijaya VI) dihanyutkan ke laut, tetapi kemudian dapat dipungut dan dipelihara oleh Nyai Suta-Pinatih, kelak disebut Pangeran Giri. Kelak ketika terjadi huru-hara di ibu kota Majapahit, Putri Pasai pergi ke tempat adiknya Raja Bungsu di Ampelgading.Penduduk desa-desa sekitar memohon untuk dapat masuk Islam kepada Raja Bungsu, tetapi Raja Bungsu sendiri merasa perlu meminta izin terlebih dahulu kepada Raja Majapahit tentang proses islamisasi tersebut. Akhirnya Raja Majapahit berkenan memperbolehkan penduduk untuk beralih kepada agama Islam. Petinggi daerah Jipang menurut aturan dari Raja Majapahit secara rutin menyerahkan hasil bumi kepada Raja Bungsu.Petinggi Jipang dan keluarga masuk Islam.Raja Bungsu beristrikan puteri dari petinggi daerah Jipang tersebut,kemudian memperoleh dua orang anak, yang tertua seorang perempuan diambil sebagai istri oleh Sunan Kudus (tepatnya Sunan Kudus senior/Undung/Ngudung), sedang yang laki-laki digelari sebagai Pangeran Bonang. Raja Bungsu sendiri disebut sebagai Pangeran Makhdum.
Sunan Ampel menikah dengan Nyai Ageng Manila,putri seorang adipati di Tuban yang bernama Arya Teja.Mereka dikaruniai 4 orang anak,yaitu:
1. Putri Nyai Ageng Maloka,
2. Maulana Makdum Ibrahim (Sunan Bonang),
4. Syarifah, yang merupakan istri dari Sunan Kudus.
Moh limo atau Molimo,Moh (tidak mau),limo (lima),adalah
falsafah dakwah Sunan Ampel untuk memperbaiki kerusakan akhlak ditengah
masyarakat pada zaman itu yaitu:
1. Moh Mabok: tidak mau minum minuman keras,khamr dan
sejenisnya.
2. Moh Main: tidak mau main judi, togel, taruhan dan
sejenisnya.
3. Moh Madon: tidak mau berbuat zina, homoseks, lesbian
dan sejenisnya.
4. Moh Madat: tidak mau memakai candu/zat narkotik dan
sejenisnya.
5. Moh Maling: tidak mau mencuri,korupsi,merampok dan
sejenisnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar